Sabtu, 30 Oktober 2010

The Best Economic System

Muttaqin.info – Mengapa sistem ekonomi Islam adalah yang terbaik? Alasan pertama adalah Sistem ekonomi Islam berdiri di atas fondasi yang kokoh, yakni akidah Islam. Akidah Islam adalah akidah yang 1) Memuaskan akal, 2) Menentramkan jiwa, 3) Sesuai fitrah manusia. Setiap yang berdiri di atas fondasi yang kokoh dan benar, maka sistem yang dipancarkan di atasnya adalah sistem yang benar dan mampu memecahkan problem kehidupan manusia.
Kelemahan mendasar dari Kapitalisme dan Komunisme karena sistem ekonomi ini merupakan ideologi yang tegak di atas akidah yang batil. Akidah yang secara akliyah bermasalah dan tentu saja tidak memuaskan akal. Akidah yang tidak menentramkan jiwa dan justru menimbulkan kegelisahan bagi manusia. Akidah yang bertentangan dengan fitrah manusia.
Komunisme misalnya, dengan diaklektika materialismenya sangat tidak memuaskan akal karena memandang segala sesuatu yang ada di dunia ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Tentu saja ini tidak masuk akal. Karena segala sesuatu yang ada di dunia pasti ada yang mencitakan.
Kapitalisme dengan akidah Sekularismenya meski mengakomodasi pemeluk agama untuk memeluk kepercayaannya, tetapi melarang pemeluk agama untuk mengaplikasikan ajaran dan aturan dalam kehidupan dan urusan hidup manusia. Ini menjadi masalah karena tidak semua agama hanya mengatur masalah ibadah ritual.
Islam merupakan agama yang juga mengatur hubungan antar manusia termasuk dalam urusan politik dan pemerintahan, ekonomi, pendidikan, hukum, budaya dan masyarakat. Karena itu, akidah Sekularisme bertentangan dengan fitrah manusia yakni fitrah menganggungkan sang Pencipta dan tidak memuaskan akal.
Faktor akidah yang tidak memuaskan akal, tidak menentramkan jiwa, dan tidak sesuai fitrah manusia inilah yang membuat sistem Kapitalisme dan Komunisme berdiri di atas fondasi yang rapuh. Akibatnya kedua ideologi ini tidak mampu memecahkan problem hidup manusia termasuk masalah ekonomi di dalamnya.
Alasan Kedua, output dari sistem Islam adalah individu-individu yang bertaqwa karena manusia yang hidup di dalam sistem Islam dibina dan diatur dengan syariah Islam. Syariah Islam merupakan implimentasi dari tujuan akidah Islam yakni menjadikan tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah dan menggapai redo Allah. Frame ini, menuntun manusia untuk menjadikan segala aktivitasnya termasuk dalam masalah harta/kekayaan dan transaksi ekonomi sebagai ibadah.
Ini berbeda dengan sistem Kapitalisme  yang membimbing manusia untuk menjadikan tujuan hidup hanya sebagai cara untuk mencapai kepuasan materi. Akibatnya yang terjadi adalah manusia menjadi tamak, saling mengeksploitasi. Yang berlaku pun dalam seperti hukum rimba, siapa yang kuat merekalah yang menang.
Alasan ketiga adalah sistem ekonomi Islam mencegah negara lepas tanggungjawabnya dari rakyat. Dalam Islam fungsi negara adalah mengatur dan melayani urusan rakyat dengan menerapkan syariah Islam. Negara laksana perisai di mana rakyat berlindung di belakangnya.
Ini berbeda dengan Kapitalisme yang berdiri di atas prinsip ekonomi “kebebasan kepemilikan”. Kebebasan ini mendorong negara melakukan liberalisasi dengan cara melepaskan tanggung jawab terhadap rakyatnya dan menyerahkannya pada investor dalam mekanisme pasar. Tidak aneh negara yang menerapkan ekonomi Kapitalis seperti Indonesia setapak demi setapak mulai meninggalkan rakyat. Akibatnya tentu saja kesengsaraan bagi rakyat.
Alasan keempat adalah sistem ekonomi Islam mampu menyelamatkan dan mensejahterakan dunia. Ada empat faktor penyebabnya, yakni sistem ekonomi Islam 1) menerapkan mata uang emas dan perak, 2) memajukan sektor riil yang tidak eksploitatif, 3) menciptakan perdagangan internasional yang adil, dan ke 4) mengemban misi kemanusian.
Krisis global sekarang bersumber dari diterapkannya sistem ekonomi Kapitalis yang ribawi. Akibatnya perekonomian dunia didominasi oleh sektor non riil yakni sektor finansial. Dominasi ini menyedot sumber daya sektor riil ke sektor finansial. Perekonomian juga berada dalam ketidakpastian dan menyebabkan ketimpangan yang semakin tinggi.
Sistem ekonomi Islam menghapus sistem ribawi dan menggantinya dengan sistem moneter dengan mata uang yang berbasis emas dan perak. Selain riil dan tidak ada dikotomi antara sektor riil dan moneter, sistem mata uang ini menjamin kepastian nilai tukar dan keadilan dalam transaksi internasional dan domestik.
Sistem ekonomi Islam juga mencegah ketimpangan dengan pembentukan struktur ekonomi yang adil. Islam mengatur kepemilikan menjadi tiga, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan negara, dan kepemilikan umum. Kepemilikan individu diakui karena itu adalah bagian dari fitrah manusia dalam mempertahankan hidup. Namun Islam mengatur individu agar tidak manzalimi manusia lainnya dengan adanya aturan tentang kepemilikan umum dan kepemilikan negara.
Tidak dapat disangkal, sumber daya ekonomi, bidang-bidang transaksi ekonomi, sebagian besar masuk dalam wilayah kepemilikan umum. Dengan aturan ini, dalam Islam tidak ada individu/swasta yang menguasai aset vital dan menjadi hajat hidup orang banyak. Sebaliknya sistem ekonomi Kapitalis memberikan kesempatan luas kepada individu untuk menguasainya.
Dengan pola ini, maka terbentuk struktur ekonomi yang adil dan kekayaan dapat didistribusikan dengan baik sehingga setiap warga negara lebih terjamin pemenuhan kebutuhan pokoknya.
Ekonomi memang harus ada hanya di wilayah sektori riil, tetapi lebih dari itu tidak boleh eksploitatif yang menyebabkan ketimpangan. Tidak boleh juga menyebabkan kerusakan masyarakat dan kezaliman karena itu sektor riil harus berbasiskan pada kegiatan ekonomi yang dihalalkan syariah.
Sistem ekonomi Islam juga memajukan perdagangan internasional yang adil. Perdagangan internasional tidak dilakukan atas dasar untuk mendominasi dan imperialisme seperti sekarang. Tetapi saling menguntungkan. Hanya saja perdagangan yang dapat diterapkan hanya pada negara-negara yang terikat perjanjian damai dengan negara Islam. Tentu saja tidak mungkin berdagang dengan negara lain yang sedang terlibat perang atau dengan negara yang sesunguhnya memusuhi dan berupaya mencengkramkan penjajahannya seperti hubungan parasit Amerika Serikat terhadap Indonesia.
Dalam sistem ekonomi Islam, perdagangan internasional dilakukan secara bebas tanpa cukai kecuali pada produk yang diharamkan syariah. Cukai hanya diterapkan jika negara lain menerapkan cukai atas komoditi yang diekspor oleh warga negara Islam.
Sistem ekonomi Islam juga menjunjung martabat manusia karena itu Islam menganggap ilegal aktivitas ekonomi yang eksploitatif apalagi terhadap suatu komunitas/bangsa. Pertama sistem ekonomi Islam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap warga negara dan mendorong mereka untuk hidup di atas standar sesuai adar kemampuannya.
Kedua hubungan ekonomi internasional merupakan bagian tidak terpisahkan dari politik luar negeri negara Islam, yakni dakwah dan jihad. Islam menyerukan dakwah ke seluruh penjuru dunia dan menjadikan jihad sebagai penjaga terhadap dakwah itu sendiri. Karena itu dalam konteks ekonomi pun Islam hadir untuk menyelamatkan umat manusia dari kesengsaraan di dunia. Islam juga mengajak umat manusia agar beriman kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi.
Itulah sistem ekonomi Islam, sistem ekonomi terbaik (the Best Economic System). Hanya saja saat ini tidak ada satu negeri Islam pun yang menerapkan sistem ekonomi Islam. Dunia berada dalam dominasi dan cengkraman penjajahan Kapitalisme global. Apa penyebabnya?
Untuk mewujudkan diterapkannya sistem ekonomi Islam yang dibutuhkan adalah kehadiran sistem politik Islam yakni Khilafah Islamiyah. Tanpa sistem politik dan pemerintahan ini mustahil syariah Islam dapat diterapkan. Mustahil pula sistem ekonomi Islam hadir ke tengah-tengah umat manusia. Sehingga  gerak untuk membangun sistem ekonomi Islam harus disertai dan berada dalam kerangka politik Islam. Artinya pada diri umat harus dibangun kesadaran politik, yakni kesadaran hidup umat, hidup kita harus diatur menurut aturan syariah yang membutuhkan sistem Khilafah untuk menerapkannya.  [source: www.muttaqin.info]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar